Monday, July 01, 2013

Sederhana dan Begitulah

Aku pernah merasakan beberapa kali jatuh suka pada laki-laki. Jatuh suka kukatakan karena memang terasa tidak lebih dari batas perasaanku menyukai mereka.
Pertama kali aku merasakan jatuh suka pada saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Aku suka pada seorang lelaki bertubuh besar, berkulit gelap, mengendarai vespa butut peninggalan ayahnya dan usianya terpaut jauh dariku. Aku sering mencuri pandang jika melintas di depan bengkel tempatnya bekerja dan ketika melihat sedikit saja bayangan yang ku kenali sebagai dia, maka cukuplah kurasakan kebahagiaanku hari itu.
Kedua kali kurasakan jatuh suka pada tetanggaku. Seorang mas jawa yang jatuh cinta pada satu-satunya sahabatku ketika itu. Aku sangat senang ketika dia memanggilku dan seketika aku bisa merasakan seperti patah hati karena setibanya aku di hadapannya, dia pun berkata "tolong sampaikan salamku padanya. Aku rindu"
Agak lama aku meratapi rasa suka-tapi-tak-disukai sebelum akhirnya aku move on ke perasaan jatuh sukaku yang selanjutnya: sepupuku. Aku ingat malam ketika kami datang untuk membantu sepupu kami yang lain yang akan menikah keesokan harinya. Aku dan dia duduk di sebuah sofa yang sengaja diletakkan di luar agar ruangan di dalam menjadi luas. Aku menggenggam tangannya, tak lama aku merasakan seperti sebuah damai datang untukku, membuatku aman dan nyaman sampai akhirnya aku tertidur di pundaknya. Tapi sungguh aku terkejut karena ketika aku bangun, yang ada di sebelahku hanyalah sebuah ketidakadaan. Aku bersandar disandaran sofa hampir semalaman.
Lain waktu aku merasakan jatuh suka kepada seorang pak comblang teman dekatku disekolah. Aku sangat ingat ketika aku duduk d kelas XII saat itu, aku mengaguminya sebagai seorang lelaki yang barangkali akan kuibaratkan seperti hujan ketika matahari tak kunjung letih bersinar. Sang pak comblang pun ternyata menyadari ada kesukaannya jatuh padaku. Ah, jatuh suka memang tak sebegitu sederhana diantara aku dan dia yang rumit. Aku mengakhiri jatuh sukaku atau mungkin bisa kukatakan terpaksa mengakhirinya dengan rembesan air mata ketidakpercayaan terhadap satu-satunya kalimat yang entahlah mengapa terucap "aku rasa kita lebih baik berteman saja" darinya.
Aku rasa jatuh sukaku masih ada pada beberapa lelaki lain setelahnya tapi ah sudahlah, agaknya aku malu bercerita. Bukankah berlebihan itu hal yang rasanya tak pantas untuk aku yang sesederhana ini. Tapi mungkin di lain kesempatan aku akan bercerita, mungkin.
Ah ini dia, suamiku sudah kembali dari jeratan telefon panjang salah satu dari banyak tawaran pekerjaan yang sudah bisa kupastikan ditolaknya. Aku ingin berbagi bahasa dengannya dulu.
Sekian.

No comments:

Post a Comment