Ada hembusan angin menerpa wajah ketika genggamanku lepas darimu. Tak ada sekilas langkahmu berbalik setelah kau katakan rencana-rencana kepergian. Aku tak menarik, bahkan pelukan eratku tak mampu membantahmu.
Di matamu, rindu tak terucap yang bukan untukku masih menggenang. Tentang cinta lain yang tumbuh setaman dengan cintaku dan tentang ilalang yang telah lebih dulu rimbun dihatimu begitu menusukku. Aku bukan petani serakah yang mampu membabat habis cintamu untuk ku panen sendiri. Aku begitu pandai bersembunyi dari kata namun air mata tanpa kusadari basah di ujung jumpa.
Kita paham benar bagaimana menjalin kasih di antara ribuan kilometer tapi kita masih belum mengerti bagaimana bertahan ketika bibir kita lumat satu sama lain. Kita bertemu tatap dalam nanar mata yang tiba-tiba kusam dalam senja perpisahan. Kadang sesekali, mungkin selamanya.
waktu hujan sore sore
karena hidup selalu punya rasa di tiap scene nya
Sunday, August 25, 2013
Di Matamu
Sunday, July 07, 2013
Jauh
Kau tau hal apa yang paling menyenangkan ketika kita bersedih? Jauh.
Menjauh dari keramaian dan menemukan tempat yang sepi, tertutup tapi tak pengap adalah hal yang paling pertama akan ku lakukan jika sedih sedang menjebak hatiku. Sebab setiap orang memiliki halnya masing-masing maka aku tak ingin menambah beban mereka juga dengan bebanku. Terlalu mainstream kurasa.
Menyendiri ketika bersedih membuatku merasa kuat. Aku harus bangun dan tak boleh menyerah pada keadaan. Air mata boleh saja mengalir tapi perasaan untuk tetap berjuang juga harus terus ada.
Jauh membuat kita tak terlihat, tak terdengar, tak terasa. Maka jika ingin menangis, menangislah di tempat yang jauh. Meresapi sendiri kesedihan akan membuat kita lebih mengerti mengapa kita bersedih dan hal apa yang harus dilakukan untuk menjauhkan kesedihan itu dari kita.
Menangislah di tempat yang jauh, karena jauh membuat orang lain tak perlu mencemaskan perasaan kita, karena jauh membuat kita lebih bijak mengambil langkah kedepan, karena jauh juga membuat rindu lebih dalam dan semakin mencintai. Maka menjauhlah maka semua akan lebih dekat.
Friday, July 05, 2013
Menangis dan Tangisan
Kadang kita menangis untuk sebuah alasan yang entah apa. Rindu yang tak terucap, kasih yang tak berbalas, cinta yang tersembunyi bahkan melihat keadaan yang serba kekurangan di depan mata tapi kita tak bisa berbuat apa-apa juga bisa mengeluarkan kita dari zona nyaman kemudian mulai meratap.
Aku seringkali mengalami kejadian yang sering orang-orang sebut sebagai menangis, sebuah kata kerja yang identik dengan sebuah kesedihan. Asal tau saja, menangis mampu menenangkan perasaan. Apalagi jika kita mengalami kesendirian yang berkepanjangan dan tak ada tempat sebagai sandaran. Tak jarang aku atau mungkin juga orang lain di luar sana, menangis diantara tetes-tetes hujan yang jatuh membasahi wajah kemudian mengalir bersama air mata dan sampai ke bumi bersama-sama. Aku menyukai saat-saat itu dan aku sungguh menikmatinya.
Sesekali aku menangis ketika merindukanmu. Keinginan untuk merengkuh dan mencium bau badanmu juga tak jarang membuatku menitikkan air mata. Aku tak bisa mengatakan bahwa merindukanmu adalah sebuah kesedihan. Tidak. Aku anggap rindu adalah sebuah rona merah muda yang sering disapukan para penata rias di kiri-kanan pipi para modelnya. Cantik.
Ini hanya sebuah masa dimana kita berkeinginan tapi belum terlunaskan. Begitulah kurang lebihnya, menurutku. Aku hanya perlu menambah kadar kesabaran sedikit. Memang rindu itu sakit tapi jika menangis bisa sedikit mengobati, maka aku akan menangis. Aku hanya yakin, Tuhan sudah punya rencana. Selalu ada pertemuan yang menyenangkan dibalik rindu yang mendalam dalam sebuah tangisan.
Thursday, July 04, 2013
Beberapa Kicauan Kecil Pagi Ini
Pagi cerah dengan sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah-celah kecil jendela berjeruji yang masih tertutup tirai biru. Aku terbangun diantara banyak kicauan kecil anak ayam dan burung yang mencari nafkah untuk anaknya. Aku palingkan wajahku ke kanan lalu ke kiri dengan lambat. Kau tak ada (lagi).
Satu kicauan burung kecil agak lantang kudengarkan. Aku rasa dia sedang memanggil ibunya. Aku tau dia lapar. Kecil, rapuh dan belum mampu berdiri sendiri. Semakin keras saja kicauannya, mungkin dari kejauhan dia melihat sang ibu membawa sesuatu di ujung paruhnya. Aku tinggikan lagi telingaku tapi setelah kicauan keras itu, tak ada lagi suara kicauannya terdengar. Aku rasa dia sudah kenyang.
Aku baca tulisan di dalam layar telefon genggamku yang tak bertombol. Beberapa tulisan lama yang kerap merindukan pelukanmu. Sama, sama dengan tulisanku kali ini maksudnya.
Memasuki kalimat kedua judul keempat tulisan lama rinduku, terdengar suara kicauan kecil anak burung lain. Kali ini agak berbeda dengan yang tadi. Ada beberapa kicauan anak ayam menyertai kicauan anak burung ini. Aku rasa mereka sedang bercengkrama diatas meja makan diwaktu sarapan mereka. Mandiri dan pandai bersosialisasi. Burung jenis apa ini pikirku. Aku dongakkan kepala kebalik tirai biru jendela berteralis, tak ada apa-apa. Mungkin belum saatnya aku diamanahkan memelihara burung kecil untuk menjadi teman, pikirku.
Aku turuni baris-baris kalimat rinduku yang tadi sempat terpenggal. Aku semakin merindukanmu. Aku ingin mandi saja.
Sekian.