Pagi cerah dengan sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah-celah kecil jendela berjeruji yang masih tertutup tirai biru. Aku terbangun diantara banyak kicauan kecil anak ayam dan burung yang mencari nafkah untuk anaknya. Aku palingkan wajahku ke kanan lalu ke kiri dengan lambat. Kau tak ada (lagi).
Satu kicauan burung kecil agak lantang kudengarkan. Aku rasa dia sedang memanggil ibunya. Aku tau dia lapar. Kecil, rapuh dan belum mampu berdiri sendiri. Semakin keras saja kicauannya, mungkin dari kejauhan dia melihat sang ibu membawa sesuatu di ujung paruhnya. Aku tinggikan lagi telingaku tapi setelah kicauan keras itu, tak ada lagi suara kicauannya terdengar. Aku rasa dia sudah kenyang.
Aku baca tulisan di dalam layar telefon genggamku yang tak bertombol. Beberapa tulisan lama yang kerap merindukan pelukanmu. Sama, sama dengan tulisanku kali ini maksudnya.
Memasuki kalimat kedua judul keempat tulisan lama rinduku, terdengar suara kicauan kecil anak burung lain. Kali ini agak berbeda dengan yang tadi. Ada beberapa kicauan anak ayam menyertai kicauan anak burung ini. Aku rasa mereka sedang bercengkrama diatas meja makan diwaktu sarapan mereka. Mandiri dan pandai bersosialisasi. Burung jenis apa ini pikirku. Aku dongakkan kepala kebalik tirai biru jendela berteralis, tak ada apa-apa. Mungkin belum saatnya aku diamanahkan memelihara burung kecil untuk menjadi teman, pikirku.
Aku turuni baris-baris kalimat rinduku yang tadi sempat terpenggal. Aku semakin merindukanmu. Aku ingin mandi saja.
Sekian.
Thursday, July 04, 2013
Beberapa Kicauan Kecil Pagi Ini
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment