Kadang kita menangis untuk sebuah alasan yang entah apa. Rindu yang tak terucap, kasih yang tak berbalas, cinta yang tersembunyi bahkan melihat keadaan yang serba kekurangan di depan mata tapi kita tak bisa berbuat apa-apa juga bisa mengeluarkan kita dari zona nyaman kemudian mulai meratap.
Aku seringkali mengalami kejadian yang sering orang-orang sebut sebagai menangis, sebuah kata kerja yang identik dengan sebuah kesedihan. Asal tau saja, menangis mampu menenangkan perasaan. Apalagi jika kita mengalami kesendirian yang berkepanjangan dan tak ada tempat sebagai sandaran. Tak jarang aku atau mungkin juga orang lain di luar sana, menangis diantara tetes-tetes hujan yang jatuh membasahi wajah kemudian mengalir bersama air mata dan sampai ke bumi bersama-sama. Aku menyukai saat-saat itu dan aku sungguh menikmatinya.
Sesekali aku menangis ketika merindukanmu. Keinginan untuk merengkuh dan mencium bau badanmu juga tak jarang membuatku menitikkan air mata. Aku tak bisa mengatakan bahwa merindukanmu adalah sebuah kesedihan. Tidak. Aku anggap rindu adalah sebuah rona merah muda yang sering disapukan para penata rias di kiri-kanan pipi para modelnya. Cantik.
Ini hanya sebuah masa dimana kita berkeinginan tapi belum terlunaskan. Begitulah kurang lebihnya, menurutku. Aku hanya perlu menambah kadar kesabaran sedikit. Memang rindu itu sakit tapi jika menangis bisa sedikit mengobati, maka aku akan menangis. Aku hanya yakin, Tuhan sudah punya rencana. Selalu ada pertemuan yang menyenangkan dibalik rindu yang mendalam dalam sebuah tangisan.
Friday, July 05, 2013
Menangis dan Tangisan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment