Saat ini aku (membayangkan) sedang mengambil kelas "menikah denganmu". Jujur saja, aku sudah bosan dengan cerita fiksi tentang bagaimana rasanya menikah dan menjadi istrimu. Tapi rasanya aku belum cukup paham mengenai perasaan halus seorang wanita yang diperistri kemudian menghabiskan waktu berdua semalam, dua malam kemudian selamanya. Jelaslah kiranya alasan mengapa aku (membayangkan) mengambil kelas "menikah denganmu".
Aku ingin menulis sebuah karya non-fiksi seperti kebanyakan penulis berkacamata yang menulis tentang banyak hal mengenai kenyataan hidup. Aku -yang juga berkacamata ini- juga ingin menuliskan sesuatu yang nyata dan dekat dengan apa dirasakan oleh banyak wanita yang sudah menikah. Bisa jadi tentang bahagianya, mungkin juga tentang makanan aneh kesukaan suami, apapun lah. Tapi sekali lagi, jujur saja, aku belum tau akan menuliskan apa, bagaimana menulisnya, drafnya, diksinya, harus serius lengkap dengan fakta dan rumus atau santai dengan bahasa ibu sehari-hari juga aku belum tau. Yang jelas, jelaslah kiranya keseriusanku (membayangkan) mengambil kelas "menikah denganmu" ini sebagai sesuatu yang tak bisa kau anggap remeh. Aku sungguh ingin belajar bahkan mungkin aku juga ingin merasakan bagaimana "menikah denganmu".
Terlalu panjang untuk sebuah alasan?
Baiklah cukup. Aku juga tak ingin terlihat terlalu memujamu dan berharap menjadi istrimu suatu saat nanti.
Sekian.
NB: Sepertinya draft tulisan-tulisan fiksiku tentang bagaimana aku setelah "menikah denganmu" akan tetap menjadi draft saja. Sepertinya.
No comments:
Post a Comment