Kau tau hal apa yang paling menyenangkan ketika kita bersedih? Jauh.
Menjauh dari keramaian dan menemukan tempat yang sepi, tertutup tapi tak pengap adalah hal yang paling pertama akan ku lakukan jika sedih sedang menjebak hatiku. Sebab setiap orang memiliki halnya masing-masing maka aku tak ingin menambah beban mereka juga dengan bebanku. Terlalu mainstream kurasa.
Menyendiri ketika bersedih membuatku merasa kuat. Aku harus bangun dan tak boleh menyerah pada keadaan. Air mata boleh saja mengalir tapi perasaan untuk tetap berjuang juga harus terus ada.
Jauh membuat kita tak terlihat, tak terdengar, tak terasa. Maka jika ingin menangis, menangislah di tempat yang jauh. Meresapi sendiri kesedihan akan membuat kita lebih mengerti mengapa kita bersedih dan hal apa yang harus dilakukan untuk menjauhkan kesedihan itu dari kita.
Menangislah di tempat yang jauh, karena jauh membuat orang lain tak perlu mencemaskan perasaan kita, karena jauh membuat kita lebih bijak mengambil langkah kedepan, karena jauh juga membuat rindu lebih dalam dan semakin mencintai. Maka menjauhlah maka semua akan lebih dekat.
Sunday, July 07, 2013
Jauh
Friday, July 05, 2013
Menangis dan Tangisan
Kadang kita menangis untuk sebuah alasan yang entah apa. Rindu yang tak terucap, kasih yang tak berbalas, cinta yang tersembunyi bahkan melihat keadaan yang serba kekurangan di depan mata tapi kita tak bisa berbuat apa-apa juga bisa mengeluarkan kita dari zona nyaman kemudian mulai meratap.
Aku seringkali mengalami kejadian yang sering orang-orang sebut sebagai menangis, sebuah kata kerja yang identik dengan sebuah kesedihan. Asal tau saja, menangis mampu menenangkan perasaan. Apalagi jika kita mengalami kesendirian yang berkepanjangan dan tak ada tempat sebagai sandaran. Tak jarang aku atau mungkin juga orang lain di luar sana, menangis diantara tetes-tetes hujan yang jatuh membasahi wajah kemudian mengalir bersama air mata dan sampai ke bumi bersama-sama. Aku menyukai saat-saat itu dan aku sungguh menikmatinya.
Sesekali aku menangis ketika merindukanmu. Keinginan untuk merengkuh dan mencium bau badanmu juga tak jarang membuatku menitikkan air mata. Aku tak bisa mengatakan bahwa merindukanmu adalah sebuah kesedihan. Tidak. Aku anggap rindu adalah sebuah rona merah muda yang sering disapukan para penata rias di kiri-kanan pipi para modelnya. Cantik.
Ini hanya sebuah masa dimana kita berkeinginan tapi belum terlunaskan. Begitulah kurang lebihnya, menurutku. Aku hanya perlu menambah kadar kesabaran sedikit. Memang rindu itu sakit tapi jika menangis bisa sedikit mengobati, maka aku akan menangis. Aku hanya yakin, Tuhan sudah punya rencana. Selalu ada pertemuan yang menyenangkan dibalik rindu yang mendalam dalam sebuah tangisan.
Thursday, July 04, 2013
Beberapa Kicauan Kecil Pagi Ini
Pagi cerah dengan sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah-celah kecil jendela berjeruji yang masih tertutup tirai biru. Aku terbangun diantara banyak kicauan kecil anak ayam dan burung yang mencari nafkah untuk anaknya. Aku palingkan wajahku ke kanan lalu ke kiri dengan lambat. Kau tak ada (lagi).
Satu kicauan burung kecil agak lantang kudengarkan. Aku rasa dia sedang memanggil ibunya. Aku tau dia lapar. Kecil, rapuh dan belum mampu berdiri sendiri. Semakin keras saja kicauannya, mungkin dari kejauhan dia melihat sang ibu membawa sesuatu di ujung paruhnya. Aku tinggikan lagi telingaku tapi setelah kicauan keras itu, tak ada lagi suara kicauannya terdengar. Aku rasa dia sudah kenyang.
Aku baca tulisan di dalam layar telefon genggamku yang tak bertombol. Beberapa tulisan lama yang kerap merindukan pelukanmu. Sama, sama dengan tulisanku kali ini maksudnya.
Memasuki kalimat kedua judul keempat tulisan lama rinduku, terdengar suara kicauan kecil anak burung lain. Kali ini agak berbeda dengan yang tadi. Ada beberapa kicauan anak ayam menyertai kicauan anak burung ini. Aku rasa mereka sedang bercengkrama diatas meja makan diwaktu sarapan mereka. Mandiri dan pandai bersosialisasi. Burung jenis apa ini pikirku. Aku dongakkan kepala kebalik tirai biru jendela berteralis, tak ada apa-apa. Mungkin belum saatnya aku diamanahkan memelihara burung kecil untuk menjadi teman, pikirku.
Aku turuni baris-baris kalimat rinduku yang tadi sempat terpenggal. Aku semakin merindukanmu. Aku ingin mandi saja.
Sekian.
Wednesday, July 03, 2013
Judulnya? Ah entahlah
Apalagi yang terjadi hari ini?
Akankah terdengar lagi nada suaramu yang meninggi?
Ataukah ada lagi kebisingan lain tentang mengapa kita mesti atau tak mesti bersama?
Atau mungkin ada lagi keraguanmu atas aku yang tak mampu berbuat apa-apa?
Aku duduk disini, didalam sebuah rumah besar tanpa perabotan yang kau katakan sebagai kumuh. Aku menantikan kabarmu. Aku genggam semua kenangan kita dan berusaha masuk kedalam setiap adegan. Aku berusaha mengobati rinduku. Aku sadar, memilikimu hanyalah fatamorgana gurun pasir gersang yang hampa tanpa oase dan hujan. Tapi aku tetap menunggu kabarmu. Walaupun burung pengantar surat yang biasa aku sewa juga tak lagi tau dimana kau sebenarnya.
Aku masih belum letih. Aku masih ingin mencintaimu dalam hatiku. Sekalipun kau katakan pelukan adalah ketidakmungkinan tapi bagiku angan-angan adalah kenyataan yang belum terungkapkan. Aku masih ingin merindukanmu dalam pekat bayang-bayang kebersamaan. Aku akan membeli lampu terang yang menyala senyala-nyalanya, selama-lamanya. Aku masih ingin menungguimu disini. Aku tak akan beranjak karena jika suatu hari nanti kau sadari ada perasaanmu tertinggal padaku, kau tau alamat mana yang harus kau tuju.
Tuesday, July 02, 2013
Sedikit Saja
Sering kutanyakan pada diriku sendiri "mengapa mengingatmu begitu tak menyenangkan"
Sering juga aku tetiba menangis hanya karena sayup-sayup terdengar alunan lagu kesukaanmu.
Sedih itu bukan karena rindu yang dalam kepadamu tapi lebih karena keterbatasanku yang tak mampu memenuhi keinginan rindu memelukmu. Miris.
Mengapa Menulis?
Aku sedang menghitung berapa lama aku diam dan tak berbincang disini. Rasanya baru kemarin aku berhenti menulis tapi nyatanya waktu tak pernah berhenti berputar. Hampir dua bulan aku hilang terkubur dan kehilangan kata-kata. Menulis bagiku adalah cara yang menyenangkan untuk bercerita, menyanggah kata-kata, menyangkal apa yang bukan sebenarnya juga menyatakan bagaimana aku merindukanmu disana.
Kadang tulisan juga membuat kita ingat akan kerasnya perjuangan, bangkit dan melawan arus deras tentang tantangan hidup yang seringkali membawa kita pada inti kehidupan: pilihan. Tetap merindukanmu tanpa dirindukan juga olehmu adalah salah satu contoh pilihan yang sering menjadi alasan mengapa aku menulis. Ketidaklayakan, perbedaan pandangan, baik-buruknya penilaian tidak kunjung mematahkan keinginanku menulis, apalagi tentangmu. Aku tak memikirkan apa atau bagaimana tanggapan orang lain tentang tulisanku. Menulis adalah media komunikasi, walaupun tulisanku tak kunjung dibaca dan tak kunjung berbalas, aku sudah cukup bahagia bisa menuliskan apa yang aku rasakan disini. Setidaknya, suatu saat nanti aku bisa membaca lagi perasaanku yang mungkin nanti akan sedikit terlupakan. Jadi, kau tak keberatan kan kalau aku tinggal dan tetap menulis dsini? :)
(Membayangkan) Menikah Denganmu
Saat ini aku (membayangkan) sedang mengambil kelas "menikah denganmu". Jujur saja, aku sudah bosan dengan cerita fiksi tentang bagaimana rasanya menikah dan menjadi istrimu. Tapi rasanya aku belum cukup paham mengenai perasaan halus seorang wanita yang diperistri kemudian menghabiskan waktu berdua semalam, dua malam kemudian selamanya. Jelaslah kiranya alasan mengapa aku (membayangkan) mengambil kelas "menikah denganmu".
Aku ingin menulis sebuah karya non-fiksi seperti kebanyakan penulis berkacamata yang menulis tentang banyak hal mengenai kenyataan hidup. Aku -yang juga berkacamata ini- juga ingin menuliskan sesuatu yang nyata dan dekat dengan apa dirasakan oleh banyak wanita yang sudah menikah. Bisa jadi tentang bahagianya, mungkin juga tentang makanan aneh kesukaan suami, apapun lah. Tapi sekali lagi, jujur saja, aku belum tau akan menuliskan apa, bagaimana menulisnya, drafnya, diksinya, harus serius lengkap dengan fakta dan rumus atau santai dengan bahasa ibu sehari-hari juga aku belum tau. Yang jelas, jelaslah kiranya keseriusanku (membayangkan) mengambil kelas "menikah denganmu" ini sebagai sesuatu yang tak bisa kau anggap remeh. Aku sungguh ingin belajar bahkan mungkin aku juga ingin merasakan bagaimana "menikah denganmu".
Terlalu panjang untuk sebuah alasan?
Baiklah cukup. Aku juga tak ingin terlihat terlalu memujamu dan berharap menjadi istrimu suatu saat nanti.
Sekian.
NB: Sepertinya draft tulisan-tulisan fiksiku tentang bagaimana aku setelah "menikah denganmu" akan tetap menjadi draft saja. Sepertinya.
Rumah Kesendirianku yang Kadang Terpuruk Tanpa Candaanmu
Sore ini langit masih mendung seperti kemarin tapi sore ini rumahku ramai tertiup angin lepas tertawaan anak-anak muda yang setelah sekian lama aku sapa dengan akrab sebagai kawan. Semasa mereka, ah salah, semasa kami ini berkumpul dan melepas tawa bersama adalah kesukaan yang kalau boleh ingin kami habiskan sepanjang hari, sepanjang waktu. Aku dan mereka ini adalah sekumpulan anak mudah sendiri -atau lebih gaulnya dibilang single- yang hampir setiap hari menghabiskan menit-menit bersama. Entahlah, yang jelas aku senang dengan keadaan ini. Aku yang entahlah milik siapa ini memang kadang merasakan keterpurukan kesendirian dikala dia yang kusayang yang juga entah ada dimana tak kunjung mengangkat telefon rinduku. Jelaslah sudah siapa yang aku tuju untuk membunuh semuanya: mereka.
Kemarin dan besok rumah ini juga sudah dan akan ramai diterpa angin segar candaan anak-anak periang yang selalu aku suka.
Besok dan kemarin, ada satu pertanyaan yang sudah dan akan aku jawab tanpa kata tapi dengan senyum segera setelah "mana cowok kakak" dari mulut manis mereka. Keluarga memang begitu perhatian. Saking perhatiannya seringkali aku menghindari perhatian mereka dengan pergi jauh dari kerumunan dan berusaha sibuk dengan apa yang aku genggam. Ah, andai saja hatimu bisa aku sibukkan dengan usaha pengalihan perhatianku. Sayangnya tidak.
Hei, kemana cerita bahagia ini? Senin, selasa, rabu rumahku sudah dan akan ramai. Aku ingin merencanakan kamis, jumat dan sabtu juga dengan ramai riuh rendah tertawaan. Mungkin aku akan sibuk. Sampai bertemu nanti.
Aku sayang kamu.
Selalu.
-tak berbalas-
Monday, July 01, 2013
Sederhana dan Begitulah
Aku pernah merasakan beberapa kali jatuh suka pada laki-laki. Jatuh suka kukatakan karena memang terasa tidak lebih dari batas perasaanku menyukai mereka.
Pertama kali aku merasakan jatuh suka pada saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Aku suka pada seorang lelaki bertubuh besar, berkulit gelap, mengendarai vespa butut peninggalan ayahnya dan usianya terpaut jauh dariku. Aku sering mencuri pandang jika melintas di depan bengkel tempatnya bekerja dan ketika melihat sedikit saja bayangan yang ku kenali sebagai dia, maka cukuplah kurasakan kebahagiaanku hari itu.
Kedua kali kurasakan jatuh suka pada tetanggaku. Seorang mas jawa yang jatuh cinta pada satu-satunya sahabatku ketika itu. Aku sangat senang ketika dia memanggilku dan seketika aku bisa merasakan seperti patah hati karena setibanya aku di hadapannya, dia pun berkata "tolong sampaikan salamku padanya. Aku rindu"
Agak lama aku meratapi rasa suka-tapi-tak-disukai sebelum akhirnya aku move on ke perasaan jatuh sukaku yang selanjutnya: sepupuku. Aku ingat malam ketika kami datang untuk membantu sepupu kami yang lain yang akan menikah keesokan harinya. Aku dan dia duduk di sebuah sofa yang sengaja diletakkan di luar agar ruangan di dalam menjadi luas. Aku menggenggam tangannya, tak lama aku merasakan seperti sebuah damai datang untukku, membuatku aman dan nyaman sampai akhirnya aku tertidur di pundaknya. Tapi sungguh aku terkejut karena ketika aku bangun, yang ada di sebelahku hanyalah sebuah ketidakadaan. Aku bersandar disandaran sofa hampir semalaman.
Lain waktu aku merasakan jatuh suka kepada seorang pak comblang teman dekatku disekolah. Aku sangat ingat ketika aku duduk d kelas XII saat itu, aku mengaguminya sebagai seorang lelaki yang barangkali akan kuibaratkan seperti hujan ketika matahari tak kunjung letih bersinar. Sang pak comblang pun ternyata menyadari ada kesukaannya jatuh padaku. Ah, jatuh suka memang tak sebegitu sederhana diantara aku dan dia yang rumit. Aku mengakhiri jatuh sukaku atau mungkin bisa kukatakan terpaksa mengakhirinya dengan rembesan air mata ketidakpercayaan terhadap satu-satunya kalimat yang entahlah mengapa terucap "aku rasa kita lebih baik berteman saja" darinya.
Aku rasa jatuh sukaku masih ada pada beberapa lelaki lain setelahnya tapi ah sudahlah, agaknya aku malu bercerita. Bukankah berlebihan itu hal yang rasanya tak pantas untuk aku yang sesederhana ini. Tapi mungkin di lain kesempatan aku akan bercerita, mungkin.
Ah ini dia, suamiku sudah kembali dari jeratan telefon panjang salah satu dari banyak tawaran pekerjaan yang sudah bisa kupastikan ditolaknya. Aku ingin berbagi bahasa dengannya dulu.
Sekian.