Wednesday, January 30, 2013

Jangan Tanya Ini Judulnya Apa

Pontianak, 30 Januari 2013


Kepadamu yang (katanya) ingin jadi suamiku...
Hari ke sekian puluh setelah pertemuan pertama kita, hari ini, aku memikirkanmu. Aku memikirkan kita yang beberapa puluh hari belakangan ini sering bergandengan tangan. Iya, aku kepikiran lebih tepatnya. Tapi kepikiran kamu jauh lebih baik dari pada kepikiran dia yang sudah berlalu kan? :p

Sudah, jangan kau majukan bibirmu yang sudah maju itu, aku hanya bercanda.

Kenapa? Kalimat-kalimatku janggal ya? Aku sungguh menggandengmu setiap hari. Tidakkah kau rasakan genggaman tanganku di sela-sela jemarimu? Ah, kau pasti berbohong.

Mimpi dan anganku menggambarkanmu. Menggambarkan kita dalam satu yang tak terpisah, dalam satu yang lurus tanpa celah. Menggambarkan kita yang walaupun senyatanya kita bukan kita tapi aku dan jarak atau kau dan jarak. Tapi kita punya mimpi yang selalu bisa menyatu dalam hati, jarak memang ada tapi itu kurasa sudah tak berarti. Bagaimana? Kau setuju?

Baiklah...

Sudah, jangan kau hitung lagi berapa luas samudra dan jalan raya yang memisahkan kita. Mereka hanya angka, mereka tak punya hati. Sedangkan kita punya semuanya, kita punya cinta, kita punya rasa saling memiliki yang tak berbatas.  Berapapun angka yang tertera di mesin pencari itu, sudah, jangan kau pedulikan lagi.

Aku tau kau merindu. Aku juga. Demi apapun yang kupercayai dalam hidup ini, aku merindukanmu dengan segenap hatiku. Sungguh. Tapi aku masih menyimpan kita di galeri fotoku, aku masih menyimpan kita di memori otakku, dan sudah barang tentu kau yang menguasai hatiku. Apa? Berlebihan? Iya (sedikit). Tapi kau selalu tau apa yang harus kau lakukan jika merindukanku sedang kau rasakan. Kau sudah mengatakan padaku, lalu kau bernyanyi, lalu kau menggambar, lalu kau menulis, lalu kau lakukan semua hal yang kau rasa ada aku di dalamnya. Terdengar ekstrim ya.

Tapi aku suka kau. Segila apapun, kau tetap yang kusuka. Aku takkan berubah, setidaknya hari ini aku masih menyukaimu seperti saat pertama kita bertatapan dulu. Kau tak percaya? Tak apa. Waktu akan memberi taumu bahwa masih dan akan tetap jadi yang satu-satunya memenuhi seluruh ruang dihatiku. Kau tunggu saja.

Sudah, jangan kau titikkan air matamu...

Aku sudahi sajalah kalimat-kalimat hiperbola ini. Aku sudah cukup membuatmu berurai air mata. Lagipula, aku masih harus lanjut kerja. Sampai jumpa disuratku selanjutnya ya. Akurindukamu.

Sekian dan terima pelukan.



Rain.

5 comments: