Dear my bass vocal...
Kamu masih ingat terminal leuwi panjang? Masih ingat sabtu gerimis di minggu terakhir oktober tahun lalu? Masih ingat empat preman terminal yang ada diantara becak-becak merah itu? Masih ingat karcis bis yang kutunjukkan padamu seraya berkata "ini pertemuan pertama kita, aku akan simpan semuanya" lalu kita tersenyum dan kau menggenggam tanganku. Aku ingat semuanya.
Aku ingat warna kaos dan rompi yang kau pakai. Aku ingat jeans biru yang sedikit robek di tumit yang ketika itu kau padankan dengan sneakers super duper belel kesayanganmu. Aku ingat tas punggung coklat yang kau bilang isinya jas hujan itu. Aku ingat. Ah ya tentu saja aku juga ingat aroma tubuhmu, aroma parfum supermarket yang sengaja kau beli sesaat sebelum menjemputku.
Aku ingat semuanya. Langkah-langkah kaki kita. Gerobak-gerobak makanan yang kita lewati. Trotoar yang kita naik-turuni. Tukang parkir setengah baya yang kau beri uang pecahan seribu, juga helm tanpa kaca yang kau berikan padaku tapi enggan kupakai.
Aku sedang mengingatmu. Tentu saja. Tak mungkin kukatakan lupa pada pertemuan pertama kita jika aku bisa bercerita seperti ini. Hanya saja aku belum menceritakan semuanya, sepertinya aku butuh dua malam untuk menceritakan kronologi penjemputanku waktu itu. Hahaha. Berlebihan.
Agaknya sulit bagiku untuk menuliskanmu dalam rangkaian kata. Sulit bagiku untuk memilih diksi mana yang kira-kira cocok untukmu yang (menurutku) indah. Tapi aku tetap ingin menulis tentangmu, aku ingin dunia tau bahwa aku pernah punya kesenangan ketika mata kita bertemu tatap, ketika langkah kita gontai bersama, ketika sela jari kita saling mengisi diantara selasar etalase yang sesak.
Sekarang sampailah kiranya aku dititik paling sulit: mengakhiri tulisan ini. Tapi ini tak pernah berakhir, kau tak pernah berhenti bermain di memori otakku seperti film bestseller hollywood yang main di seluruh teather dunia, duniaku. Nanti, jika kita bertemu lagi, aku ingin meminta satu tanda mata sematamu untuk kau goreskan disetiap seluar yang aku kenakan ketika bersamamu.
Ah sudahi saja ya cerita ini. Semakin banyak aku menulis, semakin dalam aku jatuh dalam kenangan kita. Bukankah hal yang semakin itu tak baik? Ya kan?
Sudah ya. Aku rindu kamu. Sekian dan terima cium pipi kiri-pipi kanan :)
Sincerely,
Rain
No comments:
Post a Comment