Sunday, August 25, 2013

Di Matamu

Ada hembusan angin menerpa wajah ketika genggamanku lepas darimu. Tak ada sekilas langkahmu berbalik setelah kau katakan rencana-rencana kepergian. Aku tak menarik, bahkan pelukan eratku tak mampu membantahmu.
Di matamu, rindu tak terucap yang bukan untukku masih menggenang. Tentang cinta lain yang tumbuh setaman dengan cintaku dan tentang ilalang yang telah lebih dulu rimbun dihatimu begitu menusukku. Aku bukan petani serakah yang mampu membabat habis cintamu untuk ku panen sendiri. Aku begitu pandai bersembunyi dari kata namun air mata tanpa kusadari basah di ujung jumpa.
Kita paham benar bagaimana menjalin kasih di antara ribuan kilometer tapi kita masih belum mengerti bagaimana bertahan ketika bibir kita lumat satu sama lain. Kita bertemu tatap dalam nanar mata yang tiba-tiba kusam dalam senja perpisahan. Kadang sesekali, mungkin selamanya.