Aku pandangi jalan itu.
Aku ingat saat kita menyebrangi jalan dengan bergandeng tangan berdua.
Senyummu lebar kala itu, menenangkanku yang tak pernah berani berada di tengah ramai.
Kita berjalan beriringan.
Genggaman tanganmu yang begitu hangat, melenyapkan takut yang selalu kurasa jika aku sendiri melewati jalan itu.
Aku tersenyum, merasakanmu ada di sampingku adalah sebuah kesenangan yang tak bisa kukatakan.
Kau menentramkan hatiku dengan cara yang tak biasa.
Kita berjalan, kadang setengah berlari.
Tertawaan kita memecah sunyi matahari yang beranjak pergi.
Langkah-langkah besarmu menjahiliku sesekali.
Selang seling pepohonan tepian jalan pun terkadang memisahkan genggaman tangan kita.
Ucapan-ucapan lucu seringkali kau lontarkan untuk menarik perhatianku.
Kau berhasil, kawan.
Tak sedikitpun perhatianku lepas darimu.
Aku menyukaimu dalam genggaman tangan, dalam sapaan lucu, dalam langkah-langkah tertinggalku mengejarmu.
Menarik, sungguh menarik.
Dalam berjalan yang tak jauh, kau mengambil semuanya.
Penatku hilang seketika.
Kau seperti obat mujarab yang tak perlu kutelan, tak perlu ku oles.
Kau hanya perlu berada di sampingku maka segala keterbatasanku berubah menjadi sempurna.
Terima kasih telah menjagaku.
Walaupun hanya menyebrang jalan, tapi kurasa itu bukan sekedar menyebrang jalan tapi juga menyebrangkan hatiku untuk lebih dekat denganmu.
Dan sebagai ucapan terima kasih, aku mendaratkan ciuman pertamaku untukmu, dibibirmu.